Berita  

Program Makan Bergizi Gratis Dikritik Tak Enak, Menko Pangan: Ahli Gizi Yang Hitung

Ilustrasi anak terlihat tidak puas atau enak dengan makanan mereka (Foto: AI/ajierahmad)

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas pemerintah mendapat kritik karena dinilai tidak enak. Kritik ini disampaikan oleh sejumlah masyarakat, sementara Kementerian Koordinator Bidang Pangan Republik Indonesia (Kemenko Pangan) Pangan membela program tersebut dengan penjelasan mendalam.

Kritik mulai muncul setelah program diluncurkan dan menu makanan disajikan kepada masyarakat pada awal tahun ini. Program ini diterapkan di beberapa wilayah yang menjadi target pemerintah untuk meningkatkan gizi masyarakat.

Kritik muncul karena masyarakat merasa rasa makanan tidak memuaskan, meskipun program ini bertujuan memenuhi kebutuhan nutrisi masyarakat.

Seorang siswi sekolah dasar sedang menikmati menu makan bergizi gratis di Sekolah Dasar Negeri 01&02, Susukan, Jakarta. (TransparanNews/Herman Zakharia)

Menteri Koordinator Bidang Pangan (Menko Pangan) akhirnya angkat bicara terkait kritik pedas yang ditujukan pada program makan bergizi gratis. Sejumlah pihak menilai makanan yang disediakan kurang lezat dan tidak memenuhi ekspektasi masyarakat. Namun, Menko Pangan menegaskan bahwa menu yang disajikan sudah dirancang oleh ahli gizi, bukan sekadar untuk kelezatan, melainkan demi memenuhi kebutuhan nutrisi masyarakat.

Baca juga :  Serah Terima Jabatan Pimpinan dan Dewan Pengawas KPK Terpilih 2024-2029

“Ini bukan soal enak atau tidak enak. Ini soal kebutuhan gizi yang terpenuhi. Ahli gizi kami sudah menghitung semua komposisinya,” ujar Menko Pangan dalam konferensi pers, Jumat (18/1/2025).

Ia menambahkan bahwa prioritas utama program ini adalah membantu masyarakat mendapatkan asupan bergizi, terutama bagi mereka yang kesulitan mengakses makanan sehat. Menurutnya, mengedepankan rasa tanpa memperhatikan kandungan nutrisi justru akan melenceng dari tujuan utama program tersebut.

“Kalau mau makanan enak, ya silakan cari sendiri. Program ini bukan untuk memenuhi lidah, tapi untuk memenuhi gizi,” tambahnya.

Baca juga :  PPN 12% Hanya Berlaku untuk Barang Mewah

Meski demikian, Menko Pangan membuka ruang diskusi untuk perbaikan. Ia menyatakan pihaknya akan mengevaluasi program agar tetap memenuhi standar nutrisi tanpa mengesampingkan cita rasa. “Kami tidak menutup telinga. Semua masukan akan kami pertimbangkan, asal tetap dalam kerangka memenuhi kebutuhan gizi masyarakat,” pungkasnya.

Sementara itu, pro-kontra di media sosial terus berkembang. Sebagian masyarakat mendukung program ini, sementara yang lain meminta agar menu makanan lebih variatif dan disesuaikan dengan selera lokal. Apakah pemerintah mampu menjembatani kritik dan tetap fokus pada tujuan utama program? Kita tunggu kelanjutannya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!